Posted by: giridharma | November 28, 2010

Warga Giri Dharma Pulang Paling Awal

Nyanggra Galungan dan Kuningan, warga adat desa Ungasan mengadakan gotong royong bersama pada hari Minggu, 28 November 2010, jam 06.00 Wita. Semua warga banjar yang tergabung dalam Desa Adat Ungasan turun bersama untuk melakukan kegiatan ini.

Masing-masing banjar mendapatkan pos masing-masing di wilayah Ungasan. Di setra Adat desa Ungasan merupakan pos pelaksanaan gotong royong Warga Giri Dharma dan Bakung Sari.

Seperti biasa kalau warga suka duka  Giri Dharma mengadakan gotong royong selalu mendahului jadwal seperti jika gotong royong jam 06.00 Wita, jam 05.30 warga sudah banyak yang datang (Ini patut diacungi Jempol dan layak dicontoh oleh banjar lainnya). Layaknya suatu pekerjaan jika diambil lebih awal tentu selesai lebih awal. Sampai disini sebenarnya tidak terjadi masalah.

Saya yang datang jam 06.00 Wita, saya sudah melihat sebagian warga sudah duduk-duduk di depan Pura Mrajepati. Saya tidak tahu apakah mereka duduk setelah bekerja atau tidak. Yang pasti sebagian warga masih sibuk bergotong-royong, pandangan saya menyapu seluruh wilayah setra, saya melihat Br. Bakung Sari masih sibuk bergotong royong. Saya juga melihat disekitar saya tidak ada yang bisa dikerjakan, demi menghormati warga yang bekerja saya ikut menyabit rumput yang walau tanpa disabit sudah rapi. Sesungguhnya sampai disini juga tidak ada yang aneh karena memang cukup satu atau dua warga bisa diupah untuk membersihkan semak yang tidak rapi tidak mesti menurunkan semua warga Desa.

Jadi kalo begitu mestikah ada gotong royong?. Saya harus jawab Harus. Kalo gotong royong tidak ada yang dikerjakan, bukankah itu buang-buang waktu?. Saya jawab TIDAK. Mengapa?. Kita harus kembalikan bahwa gotong royong itu merupakan salah satu adat yang dimiliki warga Bali, yang bertujuan tidak hanya bekerja bersama-sama tanpa pamrih tapi juga bertujuan agar sesama warga bisa ketemu saling beramah tamah, bertegur sapa, menjalin kebersamaan, memupuk rasa saling hormat menghormati dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Warga Giri Dharma, mengapa pulang paling awal?. Jika gotong royong tidak berfungsi hanya untuk bekerja, ketika tugas selesai langsung pulang. Bukankah memang tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal inilah yang terjadi pada gotong royong tanggal 28 November 2010. Warga Giri Dharma sudah pulang kurang lebih pada jam 06.30 Wita, ketika warga banjar yang lain  masih bergotong royong dan bahkan banyak yang baru datang.

Miris memang melihat kejadian seperti ini karena banjar yang dulunya paling rajin, paling sopan, paling kompak, datang paling awal, pulang paling akhir sekarang menjadi seperti sedikit brutal dan menentang asas kebersamaan dan saling menghormati.

Ada Apa Denganmu Br. Suka Duka Giri Dharma?

Mungkin perlu di cari sebab musababnya. Ketika saya masuk menjadi anggota warga Br. Giri Dharma, pada saat itu ada kegiatan mekemit di Pura Desa untuk menjaga pratima. Kita semua datang dengan kompak, bahkan saya sendiri heran kok bisa warga datang dengan kompak padahal nggak ada salahan sama sekali (cuma sebagai pembanding dari pengalaman saya: ketika saya menjadi Peminpin Redaksi sebuah majalah LSM, untuk menghadirkan wartawan dan redaktur saya harus bekerja keras membuat surat undangan rapat, itupun mereka datang selalu terlambat ketika kita jadwalkan rapat jam 19.00 paling mereka datang jam 21.00, padahal mereka semua mahasiswa terbaik dan terpilih). Saya pun selalu datang dan ikut mekemit sampai pekemitan itu selesai semua warga giri dharma dengan setia datang bahkan warga banjar yang lain juga mengakui hal itu dan sangat heran. Saya adalah orang yang baru dikenal di Ungasan karena saya ikut menjadi panitia dokumentasi ketika karya di Desa. Banyak warga yang datang ketempat saya menanyakan: “Pak Banjar napi?”. Saya dengan bangga menjawab saya adalah banjar Giri Dharma Camplik. (Inti dari kenapa warga bisa kompak datang adalah adanya rasa tanggung jawab sosial dan rasa persatuan serta kesadaran yang tinggi tanpa paksaan untuk datang, karena tidak adanya dedosan yang dikenakan bagi warga yang tidak hadir. Sehingga warga yang selesai melaksanakan tugas merasakan kegembiraan dan kepuasan batin karena melakukan sesuatu tanpa pamrih yang bisa  dipertanggung jawabkan pada diri sendiri, orang lain dan Hyang Widhi. Dan ini merupakan penerapan jalan menuju Hyang Widhi dengan jalan karma marga).

Waktu terus berjalan, sampailah ketika Dong Tek meninggal, saya juga ikut megebagan, karena mungkin beberapa warga banjar ada keperluan bekerja atau keperluan lain pulang lebih awal kira-kira jam 02.00 Wita dini hari. Padahal menurut saya ini adalah manusiawi dan harus di maklumi. Sayapun sampai pagi masih megebagan dan tidak merasa sesuatu aturan harus di rubah karenanya. Namun ada satu atau dua orang warga ingin harus adanya perubahan awig-awig. Maka ketika adanya paruman / rapat banjar akhirnya di rubahlah aturan salah satunya: Warga yang tidak datang waktu megebagan harus didenda Rp. 50.000. Dan awig-awig inilah yang berjalan sampai saat ini. Inilah sebenarya awal malapetaka yang akan membawa banjar Giri Dharma dalam pertentangan dan kekelaman di masa depan.

Saya salah satu warga semasa kuliah yang paling aktif  dalam organisasi dan mengakui bahwa organisasi itu mutlak harus ada. Ingin mencegah agar awig-awig yang mempunyai kesalahan yang sangat fatal ini agar tidak  diterapkan. Salah satu usaha yang saya lakukan adalah ketika menyusun awig-awig banjar saya mengusulkan agar awig-awig itu dicabut dan jangan ada salahan yang melebihi harga 1 kg beras. Usul saya ditolak mentah-mentah.

Mengapa dosan Rp. 50.000, sebuah kesalahan FATAL?

Karena:

  1. Banjar Giri Dharma adalah br. Suka Duka yang artinya banjar yang dilandasi oleh sanksi sosial dan kesadaran sukarela yang bertanggung jawab (Sedih dan Susah kita sama-sama) kalau ada salahan sampai Rp. 50.000, itu berarti dilandasi atas paksaan tetapi itu memungkinkan jika nama Br. Suka Duka diganti dengan Br. Suka Paksa. Kalau di dalam Negara Indonesia ini sama dengan mengganti pancasila (bayangkan dasar negara dirubah tentu ini hal yang sangat fatal kesalahannya).
  2. Dedosan ini bisa disamakan dengan melemparkan kotoran kemuka kita, artinya kita telah mempermalukan Banjar itu sendiri, dan Banjar adalah wadah paruman yang disakralkan, pastinya akan ada pancaran negative yang keluar karenanya.
  3. Orang lain akan mengecap bahwa warga kita adalah warga yang paling malas sehingga harus adanya salahan sebesar ini.
  4. Dedosan ini berpotensi besar untuk mengikis tenggang rasa, dan kesadaran kita untuk melaukan kegiatan yang bersifat sosial.
  5. Dedosan ini akan menyebabkan menipisnya rasa kepercayaan pada teman sebanjar, sehingga ingin selalu mengawasi teman sendiri, dan akan munculnya prasangka dan bibit-bibit permusuhan.
  6. Dedosan ini memberikan tekanan yang sangat berat pada generasi selanjutnya.
  7. Dedosan ini akan memicu adanya salahan lain pada setiap kegiatan banjar, seperti: rapat banjar, gotong royong, dll.
  8. Dedosan ini akan membawa kita pada setiap kegiatan berdasarkan materi, atau hanya sekedar datang misalnya saat gotong royong, yang penting tidak di dosan.
  9. Dedosan ini akan mematikan semua kegiatan banjar, karena rasa memiliki banjar sudah terberangus oleh ketakutan ketika ada kegiatan tidak bisa datang akan di kenai dosan.
  10. Bahkan ketika adanya kematian jika terjadi pembagian shift untuk jaga dimana warga banjar dibagi dua atau tiga. Akan terjadi warga yang ingin datang ketika belum shiftnya akan berpikir 100 kali karena takut ketika shiftnya dia tidak bisa datang akan di dosan. Inilah yang menyebabkan saat kematian bisa jadi yang megebagan jumlahnya sangat minimal / sedikit.
  11. Perlahan-lahan Br. Suka Duka Giri Dharma akan digiring kelembah kelam, hitam dalam samudra kegelapan tanpa tepi, yang menyebabkan bubarnya banjar ini, jika awig-awig stress ini tidak cepat di cabut.

Cobalah awasi, lihat perhatikan, cermati pada setiap kegiatan Banjar!. Kalau saya sendiri sudah mengamati dari dulu pada saat megebagan, gotong royong, dan lain-lain. Dan hasilnya awig-awig ini harus 100% dicabut. Seperti gotong royong pada hari Minggu, 28 November 2010, jam 06.00 Wita warga Suka Duka Giri Dharma pulang paling awal, disaksikan oleh warga banjar yang lain yang baru datang atau yang masih bekerja. Apakah ini sesuatu yang membanggakan atau Memalukan?.

Sebenarnya apa tujuannya dedosan Rp. 50.000 itu. Kalau diperuntukkan untuk membuat warga datang 100%, itu salah kaprah menurut saya. Knapa?. Misalnya: kalau saya megebagan karena takut salah Rp. 50.000. Mendingan saya bayar Rp. 50.000, sehingga dirumah saya bisa bekerja dan besoknya tidak ngantuk ya toh. Toh saya datang megebagan semalam suntuk bisa mengabiskan uang Rp. 200.000 misalnya. Itu saya lakukan karena saya merasa sebagai warga suka duka, pada saat salah satu warga kita duka kita harus ada disana untuk berbagi kedukaan. Ini tidak munafik mungkin banyak warga banjar yang seperti saya.

Kemudian mungkin timbul ketakutan bagi warga yang setuju akan dedosan sebesar itu. Kalau dedosan atau awig-awig ini dicabut.  Ketika ada kematiaan banyak warga yang tidak megebagan, Bagaimana solusinya?. Beri warga tersebut sanksi sosial. Semisal: jika warga tidak datang saat kematian, ketika saat warga tersebut ada kematian kita juga nggak datang. Tetapi saya bisa pastikan tanpa awig-awig itu, kita akan jauh lebih baik. “Dulu tanpa salahanpun, jika ada kematiaan semua warga datang untuk megebagan”.

Sanksi sosial akan membuat kita tahan banting, ingin selalu bersama, hidup dalam senasib sepenanggungan, toleransi, saling hormat menghormati sesama warga banjar, tidak adanya prasangka dan bisa menghidupkan semua kegiatan banjar sehingga banjar bisa maju pesat. Cabut sanksi dedosan Rp. 50.000 detik ini juga, dan perhatikan apa yang terjadi.

Dre@ming Post___________

Oleh: I Wayan Arjawa, ST.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: