Posted by: giridharma | December 19, 2010

PILKADAT BR. DINAS, CONTOH “KEPONGAHAN”?

Pada tanggal 19 Desember 2010, Br. Dinas Giri Dharma Camplik melakukan pemilihan kelian adat.

Ada 2 calon yang bertanding untuk memperebutkan posisi kelian adat di Br. dengan saldo keuangan Rp. 200.668.000 ini. Mereka adalah I Wayan Sudana, SH (dari Suka Duka Giri Dharma) dan I Nyoman Tirtayasa (dari Suka Duka Bhuwana Sari).

Kira-kira pada pukul 11. 00 WITA dilakukan, pemilihan dengan 3 Opsi:

  1. Musyawarah Mufakat warga banjar
  2. Musyawarah mufakat antara dua Calon
  3. Voting

Kelian Adat dimanapun di Bali masih bersifat “abu-abu”, dalam artian jika seorang warga dicalonkan harus sedikit “dipaksa” karena jika langsung seorang warga menerima biasanya ada prasangka jika orang bersangkutan gila hormat atau gila jabatan. Tetapi jika tidak ada yang mau kelian adat itu mutlak harus ada. Bukankah itu dilema?.

Dari kejadian itu tentu bisa dipastikan I Wayan Sudana, SH memilih opsi 2 dan keputusannya, karena I Nyoman Tirtayasa ngotot untuk maju, maka dengan suka rela, laki-laki berwajah tampan sekaligus pejabat dari GWK ini menyerahkan jabatan itu kepada I Nyoman Tirtayasa. Maka terpilihlah I Nyoman Tirtayasa sebagai Kelian Adat dan I Wayan Sudana, SH sebagai wakil kelian adat.

Sungguh tidak ada yang salah dari sistem pemilihan seperti itu dalam suatu organisasi. Tetapi perlu diingat bahwa sebelum terbentuknya Br. Dinas Giri Dharma, suka duka Giri Dharma merupakan cikal bakal berdirinya Banjar ini. Ketika terjadi pemekaran banjar-banjar di lingkungan Desa Ungasan, maka suka duka Bhuwana Sari bergabung dengan Br. Giri Dharma.

Ada aturan yang tidak resmi tetapi sangat mengikat karena ini berhubungan dari rasa dan asa yaitu: jika kelian dinas berasal dari suka duka Bhuwana Sari maka kelian adat harus berasal dari suka duka Giri Dharma begitu juga sebaliknya. Seperti telah diketahui bahwa Arkanuara merupakan kelian dinas yang berasal dari Suka Duka Bhuwana Sari. Maka sudah sepantasnyalah kelian adat itu berasal dari Suka Duka Giri Dharma.

Disinilah kelihatan bahwa kesadaran untuk menghormati, menghargai sesama hak warga diterabas dengan alasan yang secara de jure benar tetapi secara hati, tata krama, sopan santun, adat ketimuran itu salah. Bukankah ini suatu “Kepongahan”?.

Oleh: I Wayan Arjawa, ST.

Advertisements

Responses

  1. memang seperti itulah adanya,,,,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: